Tips Kesehatan

Jumat, 17 April 2026

KITA BELUM MERDEKA KALAU MASIH DI JAJAH GULA

Sumber : Tara News 197

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.” – Ir. Soekarno –

Apa yang harus kita lakukan untuk menghormati dan menghargai jasa para pahlawan yang telah berjuang agar Indonesia bisa merdeka? Cukup dengan saling menghormati satu sama lain, menunjukkan sikap cinta tanah air, mengingat dan mengenang jasa para pahlawan, serta menjalankan 5 nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-sehari. Salah satu bentuk penghormatan sederhana di masa kini bisa dimulai dari hal kecil, yaitu dengan menjaga kesehatan diri kita sendiri dan juga menjaga Bangsa Indonesia dari ancaman gaya hidup yang membahayakan kesehatan.

Jika dahulu Bangsa Indonesia dijajah oleh bangsa asing, maka kini Bangsa Indonesia kembali dijajah oleh gaya hidup yang tidak sehat. Salah satu bentuk penjajahan gaya hidup tidak sehat yang jarang disadari adalah banyaknya makanan dan minuman mengandung gula berlebih namun rendah nutrisi yang banyak beredar di Indonesia, dan kita juga tanpa sadar sering mengonsumsinya.

“Data dari Kementerian Kesehatan Indonesia menyebutkan bahwa rata-rata 5,5% penduduk Indonesia mengonsumsi gula lebih dari 50 g/hari, atau sekitar 60-70 g/hari.  Padahal, anjuran WHO mengenai batas maksimal konsumsi gula adalah 50 g atau 4 sendok makan gula”

Konsumsi gula yang berlebih dapat menyebabkan berbagai penyakit, salah satunya adalah diabetes. Ironisnya, banyak dari penderita diabetes yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang “dijajah” oleh penyakit ini, sampai pada akhirnya berujung pada komplikasi (kegagalan organ) bahkan hingga kematian.
Kalau masyarakat dulu berperang dan melawan bangsa asing, hari ini masyarakat kita berperang dan melawan gaya hidup diri sendiri. Jika penjajahan zaman dulu membuat kita kehilangan kemerdekaan secara fisik, maka penjajahan zaman ini dapat membuat kita kehilangan kemerdekaan untuk hidup sehat.

Lantas, apakah kita harus menyerah?
Apakah kita rela perjuangan para pahlawan hanya sebatas memerdekakan Indonesia?
Bangsa Indonesia diperjuangkan dan dibangun oleh semangat serta tumpah darah para pahlawan. Maka mulai dari hari ini sampai seterusnya, kita hanya tinggal melanjutkan perjuangan mereka. Bukan di medan perang, tetapi dalam keseharian kita. Kita harus bisa mengendalikan diri, mengatur pola makan, dan meminta solusi serta bantuan dari alam. Karena layaknya penjajahan fisik, penjajah kesehatan pun harus diperangi dengan strategi dan senjata yang tepat.

Salah satu senjata terkini yang kita butuhkan adalah pare atau yang lebih dikenal dengan paria. Pare bukan tanaman mahal, bukan juga tanaman yang banyak dicari oleh penjajah. Tanaman ini sering kali dianggap tanaman kampungan dan banyak dihindari karena rasanya yang sepat dan pahit. Namun, di balik rasanya yang kurang memuaskan selera, justru tersimpan banyak kebaikan dan manfaat untuk kesehatan. Pare/bitter melon (Momordica charantia L.) dikenal luas oleh masyarakat Indonesia hanya sebagai pendamping lauk saja,
padahal tanaman ini mengandung senyawa yang dapat melawan penjajahan yang dilakukan oleh gula.

Para peneliti mengungkapkan bahwa pare mengandung senyawa Charantin yang dapat meningkatkan pengambilan glukosa oleh sel, Polipeptida-P yang merupakan senyawa mirip insulin, dan Vicine serta Momordin yang merupakan antioksidan yang memperbaiki jaringan serta sel yang rusak. Tidak seperti obat diabetes yang sering kali hanya menekan gejala, pare bekerja dengan cara:
a. Menyeimbangkan dan memperbaiki metabolisme tubuh.
b. Meningkatkan respon insulin tubuh.
c. Merangsang produksi insulin pada sel beta pankreas.
d. Memperbaiki toleransi glukosa pada tubuh.
e. Mengurangi nyeri akibat komplikasi saraf.

Dan yang paling penting, tanaman dan buah pare murah dan mudah di dapat di negeri ini. Mungkin Anda berpikir,jika pare dikonsumsi langsung, rasa pahitnya akan tetap terbayang dan terasa. Tapi, dengan kemajuan teknologi di zaman ini, Anda tidak perlu repot-repot lagi merasakan pahitnya untuk berjuang melawan diabetes. Kini, manfaat pare dapat dirasakan dalam bentuk suplemen yang praktis tanpa rasa pahit.Inilah bentuk kemerdekaan dari cara berpikir. Ketika kearifan lokal bertemu dengan teknologi yang tepat, maka muncul sebuah inovasi baru yang menciptakan solusi yang efektif demi kemajuan bangsa Indonesia di masa depan.Pare, rasanya mungkin pahit seperti sejarah masa lalu bangsa ini, namun terkadang, rasa pahit inilah yang memberikan kemerdekaan dan kebebasan bagi para pejuang diabetes
di Indonesia.


Share this Article:
Tips Kesehatan Terkait
  • KITA BELUM MERDEKA KALAU MASIH DI JAJAH GULA

  • CEGAH SAKIT DIMULAI DARI HURUF C

  • BUKAN RAMUAN DUKUN, TAPI EFEKNYA BIKIN TUBUH FIT DAN HATI ALIVE

Komentar

0 komentar


Cari Tips Kesehatan
  • 17 April 2026

    KITA BELUM MERDEKA KALAU MASIH DI JAJAH GULA

  • 16 April 2026

    CEGAH SAKIT DIMULAI DARI HURUF C

  • 15 April 2026

    BUKAN RAMUAN DUKUN, TAPI EFEKNYA BIKIN TUBUH FIT DAN HATI ALIVE

  • 14 April 2026

    STADIUM, BUKAN CUMA TEMPAT NONTON BOLA

  • 13 April 2026

    SI JOMBLO YANG LABIL DAN TIDAK STABIL